Home » Info Travel » Seni dan Budaya

Seni dan Budaya

Alat Musik Tradisional

alat musik tradisional aceh - visitaceh.asiaSeurune Kalee, yaitu alat tiup tunggal dari kayu dengan satu lubang di belakang dan tujuh di depan. Ada berbagai jenis seruling (alat tiup) yang terbuat dari bambu, sepeti “buloh perindu“, “bansi” dan “suling”.

Gong, dibuat dari kuningan atau dari kulit kambing yang dikeringkan dan dibunyikan dengan alat pemukul dari kayu. Ada tiga jenis ukuran gong yang sesuai dengan ukurannya, yaitu “gong”, ”canang” dan “mong-mong”.

Rapa-ie, adalah tamborin yang dibuat dari kulit kambing. Contohnya, Rapa-ii pasai, yang telah diperkenalkan oleh kerajaan Samudra Pasai sebagai alat untuk memanggil rakyatnya untuk berkumpul.

Tak-tok, dibuat dari bambu dan sangat mirip dengan “angklung” Jawa.

Para pemain alat tradisional biasanya pria, sementara yang wanita bernyanyi dan bermain tamborin. Sebuah band tradisional terdiri dari seorang pemimpin, empat atau lima orang pemain dan satu atau dua orang anak laki-laki sopranos.

Tarian

Tarian biasanya dipersembahkan sebagai hiburan untuk para sultan dan tamu mereka setelah bekerja keras di ladang. Dewasa ini tari-tarian paling banyak dipertunjukkan, khusus pada berbagai acara pemerintahan, tetapi banyak pula kelompok-kelompok tarian tradisional sebagai warisan tradisi. Setiap daerah mempunyai versi masing-masing dan setiap tarian memiliki ciri khas daerah. Pakaian yang dipakai adalah celana dan baju lengan panjang serta sarung yang dililit di pinggang dan warnanya sering berkilat-kilat. Wanita biasanya memakai penutup kepala, tetapi perhiasan yang dipakai tergantung pada jenis tarian yang dilukiskan. Tarian Aceh umumnya memiliki karakteristik tertentu. Nilai-nilai Islami sering disebarkan melalui tarian. Tari-tarian tersebut berhubungan dengan aktifitas sosial sehari-hari. Semua tarian Aceh ditampilkan oleh satu kelompok dan dinamis dengan hentakan kaki, tepukan dada, pinggul dan bahu. Mula-mula dengan irama lambat, sedikit demi sedikit meningkat sesuai dengan tariannya. Lagu-lagu dan puisi-puisi selalu dinyanyikan oleh penari-penari itu sendiri. Beberapa tarian yang terkenal adalah:

Ranub Lam Puan

“Ranub” adalah sirih yang sering dimakan oleh orang Aceh sebagai daun yang berkhasiat. Secara tradisional digunakan sebagai kunyahan setalah makan dan disajikan untuk menunjukkkan rasa hormat kepada para tamu.“Penyajian Sirih kepada tamu“ adalah sebuah tarian yang sudah populer untuk penyambutan tamu-tamu terkemuka yang datang ke Aceh dan juga pada pembukaan acara seremonial ditarikan oleh sembilan orang wanita dan diiringi oleh musik “Seurunee Kalee”. Pada akhir tarian para penari menawarkan “Sirih” (ranub) untuk para tamu sebagai rasa hormat walaupun tidak seorang pun harus makan sirih.

Pemeulia Jamee

Tari ”Pemeulia Jamee” sama dengan tarian Ranub Lampuan. Perbedaannya adalah tidak menyajikan Sirih dan musik yang digunakan bernuasa padang pasir di Negara Arab, dan lagu yang dinyanyikan dimulai dengan sapaan dengan bahasa Arab, “Assalamu ’alaikum”.

Rapa-ii Geleng

Rapa-ii adalah jenis tamborin yang biasanya dipakai untuk mengiringi sebuah lagu atau tarian. Permainan Rapa-ii telah dikembangkan dan diiringi dengan lagu-lagu dan berbagai macam lenggak-lenggok yang indah. Ini merupakan dobrakan penampilan sebuah tarian baru yang disebut “Rapa-ii Geleng”. Tarian ini dimainkan oleh 11 sampai 12 orang penari dan setiap mereka memainkan Rapai (tamborin kecil).Sambil bermain Rapa-ii dan menyanyikan lagu, mereka melakukan berbagai gerakan tubuh, yaitu tangan, kepala dan lain-lain. Gerakan para penari hampir sama dengan tarian Saman, tetapi menggunakan “Rapa-ii”. Jenis tarian ini sangat dinikmati dan menyenangkan. Disamping itu, masih banyak lagi kesenian-kesenian lain, seperti: Ratoh Dang Deria dan Dendang Singkil.

Seudati

Seudati adalah salah satu tarian yang populer di Aceh Utara. Jumlah penarinya sebanyak 8 orang dalam satu kelompok dan mereka dipimpin oleh seorang penari yang disebut “Syech” dan didampingi oleh dua penari lain yang disebut “Apet Syech”. Tarian ini dibantu oleh dua penyanyi untuk mengiringi tarian. Ada dua jenis Seudati: v Seudati Inong: jenis seudati yang dimainkan oleh gadis-gadis dengan memakai kostum cerah. v Seudati Agam: jenis seudati yang dimainkan oleh pria.

Tarek Pukat

Tarian Tarek Pukat menggambarkan kehidupan nelayan di daerah pesisir. Termasuk di dalamnya pembuatan jala jaring, mendayung sampan, menangkap ikan dan menarik jala. Jenis tarian ini sangat menyenangkan dan dinamis yang diiringi oleh lagu dan instrumen musik. Setiap penari mempunyai tali sambil menarik tali dan dirangkaikan menjadi jala.

Marhaban

Tarian ini umumnya ditujukan untuk menyambut lahirnya Nabi Muhammad SAW. Popularitas tarian ini sering ditampilkan pada berbagai acara kebudayaan. Ada 20 orang pemain, 10 orang pemain wanita dan 10 orang pemain pria yang diiringi dengan tamborin. Tarian ini sering diiringi dengan do’a-doa yang dipersembahkan kepada Rasulullah.

Lansir Madam

Lansir Madam adalah sisa-sisa dari era kolonial dan menggambarkan sebagai “Tarian Belanda”.

Saman

Saman adalah tarian yang sangat populer di Aceh dan tarian ini telah terkenal di luar negeri dengan nama “Tangan Seribu” yang berasal dari Alas dan biasanya dipertunjukkan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan acara-acara penting lainnya. Ditarikan oleh 8 sampai 20 orang pemain pria berlutut/duduk dalam satu barisan di lantai dan membuat gerakan tubuh yang diiringi dengan lagu, menepuk tangan, menepuk dada, menepuk tangan di lantai dan lain-lain.Jenis tarian ini menyayikan lagu pujian kepada Allah atau do’a. Tarian ini dimulai dengan gerakan lambat dan meningkatnya tempo secara berangsur-angsur sampai kecepatan tinggi hingga akhirnya tiba-tiba berhenti. Tari Saman memiliki perbedaan menurut versi daerah.

Meuseukat

“Meuseukat” hampir sama dengan “Saman” perbedaannya hanya “Meuseukat” yang dimainkan oleh wanita yang berasal dari Aceh Selatan.

Pho

Kata “Pho” berasal dari kata “Peubae Po”. “Peubae” berarti tangisan dan “Po” adalah orang yang dihormati. Tarian tersebut dikembangkan dari tarian lama “Bineuh” dan dimulai pada abad ke-16 di Aceh Selatan. Tarian ini mulai dipertunjukkan pada acara kematian sultan atau orang yang dimuliakan sebagai suatu ungkapan kesedihan dan kehilangan. Setelah bertahun-tahun mulai ditampilkan pada upacara “Manoe Pucok” (mandi pucuk secara berturut-turut) dalam hari-hari sebelum pesta perkawinan ketika pengantin dimandikan.Selama upacara ini berlangsung pengantin wanita duduk lengkap dengan pakaian tradisional dan ditemani oleh orang tuanya setelah “Peusijuk” (ditepung tawari) para penari muncul, mereka dipimpin oleh seorang “Syech” yang menyanyikan lagu tentang gambaran kehidupan pengantin wanita dari lahir sampai menikah. Kisahnya tentang kehidupan selama dengan orang tua, berapa banyak yang telah mereka habiskan untuknya dan bagaimana mereka telah merawatnya. Sekarang saatnya berpisah dan pengantin wanita akan meninggalkan orang tuanya untuk sebuah kehidupan baru dengan suaminya sebagai istri dan ibu. Pengantin baru juga direstui dan dido’akan semoga selalu sejahtera. Lagu-lagunya sering bernada sedih, tidak hanya pengantin dan orang tuanya yang sedih, tetapi juga para undangan ikut bersedih.

Perang Sabil

“Perang Sabil” adalah sebuah kreasi baru, yang dikombinasikan untuk mengingatkan peperangan melawan penyerbu asing. Tarian ini sangat dinamis yang diiringi oleh musik dan ditampilkan oleh 8 orang pria dan 8 orang wanita. Wanita membantu membawa rencong dan pria membawa pedang (Peudeung). Para penari melukiskan bagaimana rencong dan peudeung dipakai dalam sebuah peperangan nyata dan tarian itu sendiri dapat terluka jika penari kehilangan konsentrasi.

Bines

“Bines” berasal dari bahasa Alas dan dikembangkan dari cerita rakyat “Odeni Maleleng”. Cerita ini melukiskan tentang nasib seorang wanita yang berzina dan dihukum oleh orang kampungnya sendiri sampai mati. Ibu gadis tersebut menangis sambil menghampiri tubuh si gadis yang terbaring beralaskan selembar kulit. Tarian ini melukiskan dukacita seorang ibu dan sebuah nyanyian duka dalam bahasa daerah yang diikuti berbagai gerakan.

Didong

“Didong” adalah jenis tarian yang berasal dari daerah Gayo yang sangat terkenal. Didong dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 20 sampai 40 orang pria. Tarian ini ditampilkan pada berbagai kesempatan.

Ula-Ula Lembing

Sebuah tarian yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Melayu dan sangat populer di Aceh Timur, yang ditarikan oleh 4 pasangan dengan pakaian dalam kostum tradisional Melayu.

Alee Tunjang

Jenis tarian ini sering dilakukan pada saat musim panen datang, yang melukiskan penggilingan padi secara tradisional. Ditampilkan oleh empat pasangan dengan gerakan indah dan diiringi musik “Seurunee Kalee”. Diangkat dari kata “Lesung” (alat menumbuk padi) dan “Alu” (alat penumbuk), 2 atau 3 meter panjangnya.

Daboih

“Daboih” dikenal sebagai sebuah tarian yang sangat keras, yang menampilkan kekebalan seseorang dari berbagai benda tajan dengan menikam dirinya sendiri. Permainan Daboih diiringi oleh musik tamborin “Rapa-ii”. Pertunjukan Daboih kadang-kadang dramatis, bahkan gergaji listrik dapat digunakan.

Baca: Budaya | Seni